Kamis, 16 Apr 2026
Suara Kobeng | Aspirasi, Berani dan Aksi
Di Tengah Derasnya Banjir Solo Raya, Relawan Muhammadiyah Menjadi "Tali Penyelamat" bagi Warga Rentan
Penulis: Admin
Kemanusiaan - 15 Apr 2026 - Views: 8
image empty

Solo, 15 April 2026 — Hujan yang sejak sore menggantung di langit Jawa Tengah itu akhirnya memutuskan untuk jatuh tanpa kompromi. Selasa (14/4/2026) petang, rintik berubah menjadi deras yang membabi buta. Air bukan hanya membasahi tanah, tetapi perlahan merangkak naik, mengusik ambang pintu, lalu dengan bisik-bisik yang berubah menjadi deru, masuk ke ruang-ruang paling privat warga.

Pukul 17.30 WIB, intensitas hujan mencapai puncaknya. Kali Jenes, yang biasanya mengalir tenang, tiba-tiba berubah menjadi naga hitam yang mengamuk. Debit air melonjak drastis, meluberi tanggul-tanggul alami, dan tanpa ampun merendam kawasan bantaran sungai. Dalam hitungan jam, permukiman padat di Baron Gede, Bumi, Laweyan, Surakarta, serta Banaran dan Grogol di Sukoharjo, berubah menjadi lautan lumpur dan air keruh.

Di tengah mencekiknya suasana malam, sebuah suara berbeda justru mulai terdengar. Bukan teriakan histeris, melainkan langkah-langkah teratur sepatu boot yang menginjak genangan. Lampu senter menyala di sela-sela remang listrik yang mulai padam. Mereka adalah relawan Muhammadiyah yang tergabung dalam LRB LH/MDMC PDM Kota Surakarta.

Tidak ada waktu untuk berhitung. Pukul 22.00 WIB, saat sebagian warga masih berusaha menyelamatkan barang-barang elektronik mereka, tim relawan justru membidik target yang berbeda: mereka mencari mereka yang tidak bisa lari.

“Fokus kami adalah warga rentan. Lansia yang tulangnya sudah rapuh, ibu hamil yang perutnya besar, pasien pasca operasi yang luka jahitannya belum kering, dan saudara-saudara kita dengan penyakit kronis. Mereka tidak mungkin menyelamatkan diri sendiri,” ujar Teguh Wahyudi, Ketua MDMC Kota Surakarta, saat ditemui di posko darurat, Rabu (15/4/2026) dini hari.

Suarara serak, tapi matanya menyala. Di belakangnya, para relawan masih sibuk memeriksa perahu karet dan perlengkapan medis.

Hingga pukul 03.45 WIB dini hari, banjir perlahan mulai surut. Air yang tadinya setinggi paha orang dewasa, kini hanya menyisakan genangan yang membuat lantai licin dan bau tanah basah. Namun, bekasnya tidak akan mudah dilupakan. Setidaknya enam jiwa yang berada dalam kondisi paling rentan berhasil dievakuasi. Mereka bukan sekadar angka. Ada seorang nenek yang tubuhnya gemetar kedinginan, ada seorang bapak yang masih memegang perban bekas operasi usus buntu, dan ada pula penderita asma yang hampir kehabisan obat.

Proses evakuasi tidaklah sederhana. Di Gang Sempit Kelurahan Bumi, relawan harus memapah seorang pasien pasca operasi dengan tandu darurat di atas perahu karet yang goyang. Setiap gerakan dilakukan perlahan, hampir seperti tarian yang penuh perhitungan, karena satu sentakan saja bisa membuka kembali luka operasi yang masih basah.

“Kami tidak bisa menarik atau mengangkat sembarangan. Beberapa warga kami gendong satu per satu, seperti menggendong bayi dewasa. Mereka takut, mereka dingin, dan mereka butuh rasa aman,” cerita salah satu relawan mahasiswa yang ikut turun, seraya membersihkan lumpur dari sepatu boot-nya.

Mereka dilengkapi perahu shimaru, ambulans siaga, helm, dan perlengkapan keselamatan standar. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kesabaran dan kelembutan. Di tengah malam yang gelap dan dingin, suara-suara penenang dari para relawan menjadi satu-satunya musik penghibur bagi para penyintas.

Operasi ini bukan kerja solo. Tergambar jelas kolaborasi lintas instansi yang bergerak dalam simfoni yang teratur. BPBD Kabupaten Sukoharjo turun di sisi timur, PMI menyiagakan mobil unit gawat darurat, Tagana dari Dinas Sosial mendata warga terdampak, sementara tim SAR bersiaga di titik-titik rawan arus deras.

Meski demikian, tidak ada korban jiwa. Tidak ada rumah roboh yang dramatis. Tapi yang tak kalah penting, tidak ada satu pun warga rentan yang terlantar.

“Banjir lokal memang cepat surut, tapi trauma warga rentan bisa bertahan lama. Karena itu pemantauan kami terus berjalan,” tambah Teguh. Hingga Rabu siang, tim masih bersiaga, memantau potensi hujan susulan, dan memastikan bahwa air tidak kembali naik secara tiba-tiba.

Tidak ada tenda pengungsian besar, tidak pula sembako yang menumpuk. Namun ada sesuatu yang lebih berharga: kehadiran. Kehadiran relawan yang tidak hanya datang saat air naik, tapi juga akan tinggal sampai air benar-benar surut dan warga bisa tersenyum lagi.

Kisah Solo Raya malam itu bukan tentang banjir. Ia adalah tentang bagaimana sebuah komunitas memilih untuk tidak tinggal diam. Tentang bagaimana gendongan seorang relawan menjadi pelampung terakhir bagi mereka yang sudah lelah berjuang sendiri. Dan tentang bagaimana, di tengah bencana, kemanusiaan justru menemukan panggung paling jujurnya.


Reporter: Tim Redaksi