Tujuan manusia diciptakan pada dasarnya untuk menjadi seorang hamba. Menjadi seorang wakil, bukan pemimpin sejati atau penguasa sejati. Namun, dalam perjalanan sejarah dan dinamika psikologi sosial, manusia sering kali mengidap penyakit spiritual yang sangat berbahaya: sindrom mengontrol, menghakimi, dan mendikte hidup orang lain seolah-olah dirinya adalah pemilik otoritas tertinggi.
Fenomena psikologis dan spiritual ini dapat disebut menjadi ‘Tuhan’ untuk orang lain atau bahasa yang lebih populer menjadi "tuhan-tuhan kecil". Dalam teologi Islam (akidah), fenomena ini menabrak batas paling fundamental dalam hubungan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk.
Dalam Islam, Allah SWT memilik sifat-sifat yang harus kita imani. Salah satu sifatnya yakni, sifat Jaiz Allah. Sifat Jaiz (ja'iz) secara bahasa artinya boleh, mungkin atau diizinkan. Artinya hanya Allah-lah dzat yang boleh dan diizinkan untuk menggunakan sifat tersebut. Sebagaimana ditegaskan dalam FirmanNya, "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka (manusia)." (QS. Al-Qasas: 68)
Sifat Jaiz adalah konsep ketuhanan. Hanya Allah SWT lah yang berhak memakai konsep tersebut. Allah SWT menegaskan bahwa hidup dan mati, rezeki, nasib, bahkan penciptaan semesta adalah hak prerogatif dan kehendak Allah SWT. Tugas manusia adalah memahami kehendak tersebut.
Kebiasaan manusia menjadi ‘tuhan kecil’ bagi manusia lain adalah tindakan salah kaprah dan tidak mencerminkan keimanan seseorang. Ciri-ciri orang yang bertindak sebagai ‘tuhan kecil’ mereka cenderung arogan, mementingkan diri sendiri, menghakimi orang lain, mereka seolah menjadi tuhan, padahal hidup dan matinya saja hanya seumur lemparan bulan.
Kebiasaan yang lain, manusia menjustifikasi masa depan dan nasib seseorang. Ambil contoh, "paling jadi karyawan pabrik nantinya", "paling usahamu tidak akan bertahan lama", "sepantasnya kamu masuk neraka", "surga bukanlah tempat yang cocok untukmu", dan banyak kalimat lain yang sering manusia ucapkan kepada manusialain. Padahal masa depan dan hidayah adalah hal mutlak Allah SWT.
Yang lebih menjijikan manusia seringnya ingin dimengerti, ingin diperhatikan, memaksakan usulannya, tetapi dia bertindak seenak jidatnya. Jika yang menginginkan Tuhan maka memang selayaknya Tuhan mendapatkan perhatian dan dimengerti kehendaknya oleh para makhluk dan hambanya.
Meneladani Sifat Allah SWT. Begitulah Allah SWT, Dia yang menciptakan hamba-Nya, Dia yang berkehendak atas takdir makhluk-Nya. Selain menciptakan dan berkehendak Allah SWT juga memiliki sifat yang bisa kita teladani. Jika sifat Jaiz adalah sifat yang bersandar pada Ketuhanan, ada sifat Allah SWT yang bisa kita contoh.
Allah SWT memberikan teladan sifat baiknya dalam Asmaul Husna. Banyak sekali nama-nama indah dan sifat Allah di Asmaul Husna. Misalnya Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang mengajarkan manusia untuk berkasih sayang kepada semua makhluk.
Sifat Allah SWT yang lain adalah Al-Gaffar yang berarti pengampun. Allah SWT pencipta semua makhluk adalah dzat yang Maha Pengampun, maka tak baik jika manusia memiliki sifat pendendam dan susah memaafkan.
Sifat dan akhlak yang baiknya dimiliki oleh seorang hamba, jangan melulu menjadi manusia yang punya banyak keinginan tetapi lupa tujuan diciptakan. Agaknya setiap hamba sekurang-kurangnya dalam hidup memiliki profil yang selaras dengan kehendak Allah SWT. Diantara profilnya adalah pertama, setiap individu berpasrah diri dan bertawakal atas takdir yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Yakinlah ilmu-Nya Allah SWT adalah takdir terbaik untuk hamba-Nya. Jika kita tidak bisa membaca ilmu dari Allah SWT berarti tugas manusia adalah belajar agar bisa memahami takdir yang diberikan oleh Tuhan
Kedua manusia agaknya menghormati hak dan hidup orang lain. Hargai pilihannya. Hargai pendapatnya. Jangan menghakimi takdir yang anak Adam terima. Jika takdirnya baik, ikut bersyukurlah kita. Jika takdir anak Adam sedang buruk, kita doakan dan support. Jangan menjadi Tuhan kecil untuk mereka.
Ketiga jadilah manusia yang baik. Kata sebuah hadist yang artinya "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain". Ada sebuah ungkapan jika masih merasakan sakit artinya masih manusia. Jika bisa merasakan sakitnya orang lain, berarti sedang memanusiakan manusia.
Kesimpulan bahwa hidup di dunia ini ada sebab dan takdir yang harus kita taati. Takdir tersebut menjadi milik Allah SWT. Tugas kita di dunia adalah menjadi hamba yang terbaik. Karna Tuhan kita adalah Tuhan terbaik. Maka hadirnya kita di dunia adalah takdir terbaik. Maka hiduplah dengan cara terbaik, tanpa menyakiti dan berkehendak pada takdir orang lain. Kiranya demikian.
20 hrs ago