Sabtu, 15 Aug 2026
Suara Kobeng | Aspirasi, Berani dan Aksi
BUAH DARI SEBUAH MUHASABAH DIRI
Penulis: Habib AS-Syuhada', Lc.
ARTIKEL - 14 Aug 2026 - Views: 81
image empty
Google Picture

Dengan adanya kemajuan peradaban, padat dan sibuknya  aktivitas manusia,yang dimana bermuara untuk meraih sebuah tujuan, popularitas dan harta sehingga kebanyakan manusia manusia menjadi lalai dan menabrak batasan batasan yang Allah tetapkan bagi mereka,di saat seperti inilah sebuah rutinitas yang mulai dilupakan  kebanyakan umat Islam pada zaman ini,sebuah rutinitas dan amalan para nabi sebelum Allah utus mereka ke tengah tengah umat pada masanya,rutinitas Nabi Muhammadﷺ sebelum Wahyu pertama diturunkan,amalan yang juga pada sahabat sahabat Nabi  -ridwanullah alaihim- pada malam malam mereka ketika bermunajat kepada Allah,yang tidak lain dan tidak bukan adalah bermuhasah diri,merenungi kebesaran Allah serta memohon ampun terhadap dosa dosa yang telah mereka lakukan baik itu sengaja maupun terluput dari mereka. Allah memerintahkan kita sebagai umat Islam untuk senantiasa merefleksi diri ini setiap waktu,sebagaimana Firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 18-19)

Inilah yang menjadi dalil agar kita bisa mengoreksi diri (muhasabah), Jika tergelincir dalam kesalahan, maka dikoreksi dan segera bertaubat lalu berpaling dari segala perantara yang dapat mengantarkan pada maksiat. Kalau kita melihat ada kekurangan dalarn amalan yang wajib, maka berusaha keras untuk memenuhinya dengan sempurna dan meminta tolong pada Allah untuk dimudahkan dalam ibadah. Dari Sebuah muhasabah diri,terdapat keutamaan dan manfaat Yang Allah berikan bagi siapapun yang melaksanakannya,yaitu

Pertama : Meringankan hisab pada hari kiamat

Umar bin Khattab berkata : “Hisablah (amal) kalian sebelum di hisab (di hari akhir),itu akan memudahkan kalian kelak,timbanglah amal kalian sebelum di timbang kelak dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal “ (mau’idhotul habib wa tuhfatul khatib, 76)

Kedua : Akan mempergunakan waktunya dengan hal yang baik

Jika seseorang melazimkan muhasabah terhadap dirinya maka yang teringat pada dirinya pasti amalan yang baik lagi positif,sebagaima yang dilakukan salah satu ulama besar bernama  Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi bahwa ia terbiasa mengoreksi dirinya dalam setiap nafasnya. Ia tidak pernah membiarkan waktu tanpa faedah. Kalau kita menemuinya pasti waktu Salim Ar-Razi diisi dengan menyalin, belajar, atau membaca

Maka siapa pun hendaklah muhasabah diri, baik orang yang bodoh maupun orang yang berilmu karena manfaat yang besar seperti yang telah disebut di atas. Sebelum beramal hendaklah kita bermuhasabah, begitu pula setelah kita beramal, kita bermuhasabah pula. Jangan sampai amal kita menjadi seperti yang Allah ceritakan dalam surat Al Ghasyiah : “(karena) bekerja keras lagi kepayahan,mereka memasuki api neraka yang panas” (Q.S Al Ghasyiah : 3-4)

Ketiga : Membuat diri tidak sombong

Hati orang yang sering bermuhasabah diri maka akan selalu menganggap apa yang pada dirinya itu hanyalah titipan dari Allah dan merasa dirinya makhluk yang lemah serta hina,sebagaima ucapan seorang Alim ulama pada masanya yaitu Muhammad bin Wasi’ -rahimahullah ta’ala- : “Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku." (Ighotsatul lahfan, I:81)

Oleh karena itu, seyogyanya kita seorang muslim memberikan salah satu waktunya untuk merenungi siapa dirinya,apa yang telah dia kerjakan dan juga apa yang harus dipersiapkan untuk mengahadapi kehidupan yang tiada akhir kelak

Semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam keimanan dan di jauhkan dari apa apa yang Telah Dia Haramkan untuk hamba-Nya

Nashrumminallah wa fathun Qarib, Fastabiqul Khairat


Daftar Pustaka :

Bin Muhammad, Ali. 2009. mau’idhotul habib wa tuhfatul khatib. Abu Dhabi : Yayasan islamiyah dan Amal sholih

Al-Jauziyah, Ibnu Qoyim. 2006. Ighosatul Lahfan. Riyadh : Perpustakaan Ma’arif