SURAKARTA - Prestasi internasional yang sangat membanggakan kembali diukir oleh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa berprestasi dari Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial-Politik (FHIP) UMS, sukses tampil sebagai pembicara dalam forum internasional 2nd Regional Congress on Organic and Climate. Pertemuan tingkat regional Asia Pasifik ini diselenggarakan secara hibrida di JS Luwansa Hotel, Jakarta, pada Rabu (23/9/2026).
Pertemuan ilmiah dan kebijakan tingkat tinggi ini menjadi magnet bagi para pakar iklim, praktisi lingkungan, lembaga swadaya internasional, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Digelar oleh jaringan global GAIA Asia Pacific bersama Dietplastik Indonesia dan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), forum internasional ini berfokus menyusun strategi regional untuk menekan emisi gas rumah kaca dan metana melalui pengelolaan sampah organik yang berkeadilan lingkungan.
Berbagi Panggung Internasional Bersama Delegasi Lintas Negara
Bobot internasional forum ini terlihat jelas dalam sesi diskusi panel utama bertajuk "Closing the Food Gap - Intercepting Food Loss and Food Waste". Dipandu oleh moderator Sumana Narayanan, Jody duduk sejajar berbagi panggung dengan panelis internasional lainnya, termasuk perwakilan dari Foodbank of Indonesiadan lembaga CAG dari India.
Sebagai representasi gerakan anak muda dari Indonesia, mahasiswa FHIP UMS ini mempresentasikan makalahnya yang berjudul "Youth Movement to Food Rescue". Jody memaparkan model kerja nyata Carefood Solo yang ia rintis sejak 2020 sebagai solusi konkret yang diakui di tingkat regional dalam menekan laju timbunan sampah makanan (food waste) di perkotaan.
Menyoroti Peran Anak Muda Melawan Tren FOMO di Asia Pasifik
Di hadapan para delegasi internasional, Jody menyoroti potret kritis perilaku konsumsi generasi muda global saat ini yang kerap didorong oleh tren sesaat atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Persepsi keliru bahwa makanan itu "murah" memicu tingginya angka buangan pangan layak konsumsi.
Melalui Carefood Solo, Jody membuktikan kepada dunia internasional bahwa anak muda mampu membalikkan stigma tersebut. Keterlibatan aktif generasi muda dalam memetakan potensi donor hingga mendistribusikan pangan terbukti berhasil menyelamatkan lebih dari 46.040 kg makanan berlebih hingga tahun 2025 untuk disalurkan kepada komunitas rentan. Model aksi ini memicu diskusi hangat di antara peserta kongres dari negara lain mengenai cara mereplikasi keterlibatan pemuda dalam skala yang lebih luas.
Aplikasi Ilmu Hukum UMS: Dorong Regulasi Internasional Melalui Kebijakan Lokal
Hal yang paling mencuri perhatian para delegasi forum Asia Pasifik ini adalah kemampuan Jody mengintegrasikan keilmuan Hukum dan Sosial-Politik yang ia timba di FHIP UMS ke dalam langkah advokasi kebijakan publik yang permanen. Jody menegaskan di mimbar internasional bahwa penanganan sampah makanan tidak boleh hanya bergantung pada proyek amal jangka pendek yang bersifat sementara.
Menggunakan pendekatan hukum, Jody memaparkan keberhasilannya dalam mendorong lahirnya rancangan Surat Edaran (SE) Walikota terkait Pengelolaan Food Loss and Food Waste bersama Pemerintah Kota Surakarta. Langkah advokasi strategis ini dinilai oleh forum regional sebagai preseden hukum yang sangat baik, menunjukkan bagaimana diplomasi hukum dan gerakan akar rumput yang digerakkan mahasiswa mampu menciptakan infrastruktur publik yang permanen dalam mendukung komitmen aksi iklim global (Nationally Determined Contributions/NDC).
Dekanat FHIP dan Rektorat UMS menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian Jody. Kiprahnya di forum internasional Asia Pasifik ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMS memiliki kompetensi global yang mampu mengharumkan nama universitas dan bangsa di kancah dunia.