Surakarta, 30 Desember 2025. Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kota Bengawan menggelar Kajian yang dirangkai dengan aksi kepedulian kemanusiaan bagi para penyintas bencana. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa (30/12/2025) di Masjid Al Huda Gurawan, Surakarta.
Kajian menghadirkan dua pemateri, yakni Bambang Eko, S.Ag., Anggota Korps Mubaligh Muda PCPM Kota Bengawan, serta Mursito dari tim asistensi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah yang juga merupakan relawan MDMC Surakarta. Acara ini diikuti oleh kader Pemuda Muhammadiyah dan jamaah masjid dengan partisipasi yang tinggi.
Dalam penyampaiannya, Bambang Eko menegaskan bahwa bencana harus disikapi secara utuh, tidak hanya melalui pendekatan spiritual, tetapi juga dengan kepekaan sosial dan tindakan nyata. Ia menekankan bahwa kajian keislaman idealnya mampu mendorong lahirnya aksi kemanusiaan yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Musibah merupakan ujian sekaligus pengingat. Di situlah nilai kepedulian, gotong royong, dan solidaritas kemanusiaan harus benar-benar diwujudkan,” tuturnya.
Sementara itu, Mursito memaparkan laporan terkini kondisi wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara dan Aceh berdasarkan pengalamannya bertugas sekitar 20 hari di lapangan. Ia menjelaskan bahwa dirinya mendapat amanah untuk mengaktifkan pos koordinasi Muhammadiyah, mulai dari tingkat wilayah dan daerah hingga pos pelayanan di sejumlah titik terdampak.
“Saya bergerak dari Sibolga, Langkat, Tapanuli Tengah, hingga Tapanuli Selatan dan beberapa daerah lainnya. Saat ini fokus penanganan masih berada di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Langkat,” jelasnya.
Menurut Mursito, kondisi Kabupaten Langkat per 20 Desember 2025 relatif mulai membaik dan telah memasuki tahap pembersihan serta perencanaan hunian bagi warga yang rumahnya terdampak. Situasi serupa juga terjadi di Tapanuli Selatan, meski masih membutuhkan penguatan hunian darurat dan pemenuhan kebutuhan logistik bagi para penyintas.
Adapun kondisi di Tapanuli Tengah dinilai masih cukup berat. Hingga pertengahan Desember, sejumlah rumah warga masih tertimbun lumpur setinggi satu hingga satu setengah meter. Akses jalan terputus, ketersediaan air bersih terbatas akibat sumur yang tertutup lumpur, serta jaringan PAM yang belum berfungsi optimal akibat banjir dan longsor.
“Di beberapa titik, khususnya Kecamatan Tukka, Desa Sipange, aliran listrik masih belum pulih. Untuk sekadar mengambil air, warga harus menghidupkan genset terlebih dahulu,” ungkapnya.
Kendala komunikasi di wilayah lereng pegunungan juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, tim MDMC mengupayakan penggunaan jaringan Starlink agar warga dapat berkomunikasi dengan keluarga, sekaligus memudahkan tim kemanusiaan dalam menyampaikan laporan perkembangan kondisi lapangan..jpg)
Mursito turut menyinggung situasi di Aceh Tamiang yang hingga 20 Desember masih memerlukan perhatian serius. Akses jalan menuju permukiman warga dipenuhi lumpur dan kayu gelondongan, sehingga proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
“Kerja-kerja kemanusiaan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga masa transisi, rehabilitasi, dan pemulihan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, PCPM Kota Bengawan berharap dapat meneguhkan kesadaran kolektif bahwa dakwah Islam tidak terpisah dari kerja-kerja kemanusiaan. Perpaduan antara penguatan spiritual dan aksi sosial tersebut menjadi wujud nyata komitmen Pemuda Muhammadiyah dalam merespons bencana dengan iman, ilmu, dan kepedulian.