“Tidak, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri”
Ucap Nabi Muhammad SAW kepada Umar bin Al-Khattab RA (HR. Al-Bukhori)
Bagian dari kasih sayang Allah SWT kepada hambaNya ialah tidaklah Allah membiarkan hamba tersebut tanpa sebuah petunjuk dan disempurnakan dengan siapa manusia pilihanNya yang akan mengajarkan petunjuk tersebut. Selain mengajarkan, manusia pilihan Allah SWT juga diberikan tugas untuk memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan kepada kaumnya. Sebagaimana kaum nabi Daud AS, Allah SWT menurunkan Zabur. Kaum nabi Musa AS, Allah SWT menurunkan Taurat. Begitu juga dengan kaum dan nabi lainnya termasuk Allah SWT menurunkan Al-Qur’an bersamaan memilih nabi Muhammad SAW untuk mengajarkan, memberi peringatan maupun kabar gembira kepada kaumnya. Dibalik kasih sayang Allah SWT tersebut, para hamba berkewajiban untuk mengikuti, meyakini hingga mencintai utusannya sebagai bukti ketaatan kepada Allah SWT. Beruntunglah bagi mereka yang mampu melaksanakan perintah Allah SWT dan teramat celaka bagi mereka yang menentang perintah untuk mengikuti, meyakini, dan mencintai utusan Allah SWT.
Menjadi sesuatu hal yang lazim dalam ajaran Islam sendiri, mencintai nabi Muhammad SAW merupakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Bahkan, hal tersebut merupakan bagian dari syari’at, menjadi sebuah ibadah yang agung dan Allah SWT memberikan janji yang pasti tentang pahala yang besar serta limpahan kebaikan di dalamnya. Adapun bagi mereka yang enggan, Allah SWT menjamin sendiri dengan memberikan label fasiq. Hal tersebut Allah SWT sampaikan dalam QS At-Taubah : 24 yang artinya, “Katakanlah: "Jikalau ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, kekayaanmu yang kamu semua peroleh, perniagaan yang kamu semua takutkan kerugiannya dan rumah-rumah yang kamu sukai itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah datang dengan perintah-Nya (perintah membinasakan). Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.”
Allah SWT juga memberikan gambaran tegas bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW termasuk cabang bentuk kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT dan menjadi sebab mendapatkan kasih sayang serta ampunan dariNya. Hal tersebut telah termaktub dalam kalamNya QS Ali Imran :31 yang artinya, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu”.
Ucapan yang teramat mudah bahwa kita mencintai Allah SWT dan nabi Muhammad SAW namun tanpa sadar memiliki konsekuensi yang cukup berat, Al-Imam Ibnu Katsir memberikan keterangan, “Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah SWT namun tidak mau menempuh jalan nabi Muhammad SAW, maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa nabi Muhammad SAW dalam semua ucapan dan perbuatannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, I/448)
Lantas bagaimana kita membangun cinta kepada nabi Muhammad SAW ? (bersambung)
Al-Qur’an Al-Karim
Ibnu Ismail, Muhammad. 1893 M. Shahih Al-Bukhari. Mesir : As-Sulthaniyyah (Maktabah Syamilah)
Ibnu Umar, Ismail. TT. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Riyadh : Daar As-Salam
15 hrs ago
6 days ago